Travel Haji Furoda dan Haji Plus di Jakarta dan Surabaya

Travel Haji Furoda dan Haji Plus di Jakarta dan Surabaya

Perlu Sahabat Haji Plus ketahui bahwa pelaksanaan ibadah haji tak hanya bisa dilakukan pada saat menjelang hari tua saja. Saat Sahabat Haji Plus berada di usia muda pun bisa melaksanakan ibadah haji. Tentunya anggapan masyarakat yang selama ini melekat bahwa pelaksanaan ibadah haji dilakukan menjelang hari tua tidaklah sepenuhnya salah. Ada hal yang perlu Sahabat Haji Plus pahami mengapa banyak yang melaksanakan ibadah haji di hari tua. Hal tersebut terjadi karena banyak yang mendaftar Paket Haji Reguler yang waktu tunggu keberangkatannya membutuhkan waktu belasan tahun hingga puluhan tahun. Sebab itulah, tak heran apabila banyak yang baru bisa berangkat haji disaat umur mereka memasuki usia lanjut. Bagi Sahabat Haji Plus yang saat ini masih berusia muda dan merasa mampu untuk melaksanakan ibadah haji, Sahabat Haji Plus dapat mendaftar Travel Haji Khusus dengan memilih Paket Haji Plus dan Furoda. Perihal Biaya Haji Plus dan Khusus Furoda pastinya berbeda dengan biaya Haji Reguler. Namun, hal ini akan sebanding dengan yang Sahabat Haji Plus dapatkan pada saat melaksanakan ibadah haji dengan Haji Plus ataupun Haji Furoda. Teruntuk Sahabat Haji Plus yang ingin mendapatkan informasi lengkap seputar Travel Haji Furoda dan Haji Plus di Jakarta dan Surabaya, yuk simak informasi berikut ini.

Lebih Baik Menukar Riyal di Indonesia atau Makkah?

Pada saat Sahabat Haji Plus hendak pergi ke Tanah Suci dan seluruh perlengkapan sudah siap semuanya terkadang masih saja ada bagian yang terlupa yakni menukar rupiah dengan uang riyal. Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa tak sedikir calon jemaah haji yang bingung terkait persiapan uang riyal yang ditukar di Indonesia atau membawa rupiah lalu ditukar saat berada di Tanah Suci atau bahkan mengambil uang riyal secara langsung melalui tarik tunai ATM saat di Tanah Suci. Sebenarnya semuanya bisa saja untuk dilakukan, namun Sahabat Haji plus dapat memilih manakah yang paling hemat dan praktis untuk dilakukan. Tak hanya dilihat dari segi hemat saja, akan tetapi dilihat dari sisi meminimalisir tindak kejahatan yang bisa saja terjadi pada saat Sahabat Haji Plus berada di Tanah Suci. Tentunya bagaimanapun Sahabat Haji Plus perlu untuk bersiap – siap dan bersiaga dengan segala kemungkinan yang terbaik. Perlu Sahabat Haji Plus ketahui bahwa menurut beberapa informasi dari jemaah yang sudah melaksanakan ibadah haji, berikut inilah yang kira – kira dapat Sahabat Haji Plus pilih.

  1. Menukar Riyal di Indonesia

Saat sebelum Sahabat Haji Plus berangkat ke Tanah Suci, Sahabat Haji Plus dapat terlebih dahulu menukarkan uang rupiah dengan uang riyal sebagai alat transaksi jual beli pada saat di Tanah Suci. Sahabat Haji Plus dapat menukarkan uang rupiah yang dimiliki di money changer. Perlu Sahabat Haji Plus ketahiu bahwa uang yang Sahabat Haji Plus tukarkan tersebut tentunya dipengaruhi pula oleh harga beli riyal yang dapat Sahabat Haji Plus cek perkembangan harga terbaru di google. Cara cek harga beli Riyal di Google yakni hanya dengan cara search “sar to idr” atau “idr to sar”. Setelah itu nanti akan muncul harga jual serta harga beli saat itu juga.

Perlu Sahabat Haji Plus pahami bahwa Sahabat Haji Plus bisa mencoba untuk membeli Riyal di Indonesia. Namun, membeli Riyal di Indonesia bukanlah menjadi alternatif yang tepat apabila ingin berhemat. Karena harga Riyal di Indonesia sangatlah mahal. Sebagai perbandingannya ialah Sahabat Haji Plus dapat mengambil conroh bahwa kurs harga beli Riyal sebesar Rp 3.800 jika dilihat dari Google. Sedangkan jika Sahabat Haji Plus membeli Riyal di money changer Indonesia, per 1 Riyal nya yakni berkisar Rp 4.200. Coba perhatikan bahwa perbedaannya cukup lumayan kan? Bayangkan saja jika Sahabat Haji Plus membeli ratusan Riyal, cukup dikalikan saja dan Sahabat Haji Plus akan tahu jumlah selisih yang terbilang lumayan tersebut.

  1. Menukar Rupiah Saat di Tanah Suci

Pilihan selanjutnya yang bisa Sahabat Haji Plus coba ialah membawa Rupiah untuk ditukar saat berada di Tanah Suci. Walaupun terlihat cukup merepotkan, namun cara ini lebih menguntungkan. Hal ini karena harga riyal di Tanah Suci jauh lebih murah ketimbang di Indonesia. Namun perlu Sahabat Haji Plus ketahui bahwa tak semua pecahan rupiah berlaku saat Sahabat Haji Plus berada di Tanah Suci. Pecahan rupiah yang berlaku hanyalah pecahan 50 ribu dan 100 ribu saja, karena pecahan selainnya tak dianggap. Kelemahannya ialah mereka akan menukar uang rupiah dengan pecahan yang besar. Sehingga, Sahabat Haji Plus akan kesulitan apabila membutuhkan uang riyal dengan pecahan kecil. Apabila Sahabat Haji Plus hendak menukar uang di money changer, saat di Tanah Suci Sahabat Haji Plus dapat menemukan money changer di dekat Masjid Nabawi. Letaknya berada di sekitar pintu 16, pintu 17 dan pintu 18. Proses penukaran uang ini cukup mudah. Sahabat Haji Plus tinggal datang langsung ke money changer, lalu siapkan uang rupiah dan langsung ke loket petugas. Kemudian serahkan uang yang Sahabat Haji Plus bawa kepada petugas dan nantinya Sahabat Haji Plus akan langsung menerima uang Riyal nya.

  1. Membawa ATM dan Tarik Tunai Riyal di Tanah Suci

Perlu Sahabat Haji Plus ketahui bahwa langkah ketiga ini terbilang cukup praktis dan cenderung lebih hemat dibandingkan dengan metode yang lainnya, karena Sahabat Haji Plus tak perlu repot – repot membawa uang dari Indonesia. Namun kelemahannya justru pada pihak pengetahuaan jemaah haji tersebut. Karena bisa jadi jemaah haji kurang tahu perihal cara menggunakan ATM saat berada di Tanah Suci. Dan pastinya terdapat perbedaan mesin ATM dan kurangnya informasi dari Indonesia yang membuat jemaah haji menjadi merasa kesulitan. Apabila ada mesin ATM yang berbahasa asing pastinya Sahabat Haji Plus juga akan merasa kagok kan? Saat Sahabat Haji Plus berada di Tanah Suci, Sahabat Haji Plus dapat menjumpai ATM di Makkah sekitar kompleks pertokoan yang terdapat di area hotel dekat dengan Masjidil Haram seperti kawasan depan Hilton Tower, Grand zam zam Tower serta Hotel Sofwa Orchid. Sedangkan untuk letak ATM di kawasan Madinah Sahabat Haji Plus dapat menemukannya diantara pertokoan di depan halamam utama Masjid Nabawi seperti Hilton Suites, taiba Suites dan Movenpick Hotel.

Hendaknya Sahabat Haji Plus memastikan bahwa kartu ATM yang Sahabat Haji Plus bahwa terdapat logo VISA atau Mastercard nya. Karena hanya kartu ATM yang terdapat logo tersebut yang dapat digunakan pada saat Sahabat Haji Plus di Tanah Suci. Di beberapa supermarket serta toko yang ada di Makkah dan Madinah jugsa sudah menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) untuk berbelanja tanpa tunai dengan fungsi sebagai kartu debit. Dengan penggunaan kartu ATM ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kasus kriminalitas seperti pencurian, perampokan atau perampasan. Haji Plus

  1. Memilih Menggabungkan Tiga Metode

Apabila Sahabat Haji Plus menginginkan metode yang paling hemat dan paling aman berdasarkan rekomendasi para jemaah haji yang sudah melaksanakan haji ialah menukarkan uang Rupiah di Indonesia dalam pecahan kecil maksimal 100 riyal. Kemudian, Sahabat Haji Plus dapat membawa uang Rupiah secukupnya serta membawa ATM dengan saldo yang cukup lumayan untuk bekal selama Sahabat Haji Plus berada di Tanah Suci. Seperti ulasan sebelumnya bahwa menarik uang Riyal di ATM tentunya akan lebih hemat ketimbang opsi menukar Riyal di money changer.

Sekilas Kisah Haji Wada’ dan Khutbah Terakhir Nabi Muhammad Saw

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa Haji Wada’ dikenal dengan sebutan haji perpisahan Nabi Muhammad Saw. Diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw mengumumkan niatnya pada 25 Dzulqaidah 10 Hijriyah atau tepatnya setahun sebelum beliau wafat. Berdasarkan riwayat Imam Muslim dengan sanadnya dari Jabir ra, ia berkata bahwasannya “Selama 9 tahun tinggal di Madinah Al Munawarah, Nabi Muhammad Saw belum melaksanakan ibadah haji. Kemudian pada tahun kesepuluh Nabi Muhammad Saw mengumukan hendak melaksanakan haji. Maka berduyun – duyun orang datang ke Madinah, semuanya ingin mengikuti Nabi Muhammad Saw dan mengamalkan ibadah haji sebagaimana amalan beliau.” Diketahui bahwa pelaksanaan Haji Wada merupakan momen besar yang menjadi perpisahan Nabi Muhammad Saw dengan umatnya. Karena pada akhir tahun 10 Hijriyah sudah tampak beberapa tanda yang mengindikasikan bahwa ajal Nabi Muhammad Saw telah dekat. Pada saat bulan Dzulqa’dah 10 H, Nabi Muhammad Saw memulai untuk mempersiapkan diri melaksanakan ibadah haji yang pertama kalinya sekaligus yang terakhir dalam hidupnya. Menurut sejarah, saat Nabi Muhammad Saw menyeru umat muslim dari berbagai kabilah untuk melasanakan ibadah haji bersamanya.

Berdasarkan riwayat yang ada, jemaah haji pada tahun tersebut berjumlah lebih dari 100 ribu orang dan bahkan lebih. Ada yang mengatakan bahwasannya jumlah rombongan jemaah haji yang langsung di bawah pimpinan Nabi Muhammad Saw kurang lebih 114 ribu orang. Saat tanggal 8 Dzulhijjah 10 H, Nabi Muhammad Saw berangkat menuju Mina. Kemudian bermalam di Mina dan melaksanakan shalat subuh pula di tempat tersebut. Ketika matahari terbit, beliau menuju ke Arafah. Setelah matahari mulai bergeser condong ke barat, Nabi Muhammad Saw mulai memberikan khotbah di sebuah tempat yang bernama Namirah. Lalu setelah Nabi Muhammad Saw berkhotbah Allah menurunkan surat Al – Maidah ayat 3 yang isinya “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..”

Ketika Haji Wada’, Nabi Muhammad Saw menyampaikan khutbah yang merupakan wasiatnya yang terakhir. Khutbah ini disampaikan pada 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah di Lembah Uranah, Gunung Arafah. Isi dari khutbah yang disampaikan antara lain :

  1. “Wahai manusia, dengarlah baik – baik apa yang hendak kukatakan. Aku tak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini. Maka dengarlah kata – kataku dengan teliti dan sampaikanlah kepada mereka yang tak hadir disini.”
  2. “Wahai manusia, seperti halnya kalian menganggap bulan dan kota ini sebagai kota suci, amak anggaplah jiwa dan harta setiap orang muslim sebagai amanah yang suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kalian kepada pemiliknya yang berhak. Jangan kau sakiti orang lain, agar ia tak menyakitimu pula. Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram (terlarang) bagimu, sampai datang masanya kamu menghadap Tuhan dan pasti kamu menghadap Tuhan pada waktu itu kamu dimintai pertanggung jawaban atas perbuatanmu. Saya sudah menyampaikan ini. Maka barangsiapa yang telah diserahi amanah, tunaikanlah amanah tersebut kepada yang berhak menerimanya.”
  3. “Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhanmu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba. Oleh karena itu, segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang. Semua riba sudah tak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Jangan kamu berbuat aniaya terhadap orang lain dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tak ada lagi riba dan riba Abbas bin Abdul Muttalib semua suda tak berlaku. Seluruh tuntutan darah selama masa jahiliyah sudah tak berlaku lagi dan tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin Harith bin Abdul Muttalib.”
  4. “Wahai manusia, hari ini syaitan sudah berputus asa untuk disembah di tanah ini selama – lamanya. Akan tetapi, bila kamu peturutkan dia maka senanglah dia. Karena itu peliharalah agamamu ini sebaik – baiknya. Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada duabelas bulan, empat bulan diantaranya ialah bulan suci.”
  5. “Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas istrimu, mereka juga mempunyai hak atasmu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka atasmu, maka mereka juga mempunyai hak atas nafkahmu secara lahir maupun batin. Layanilah mereka dengan baik dan berlaku lemah lembut terhadap mereka. Karena sesungguhnya mereka adalah teman dan sahabatmu yang setia serta halal hubungan suami-istri atas kalian. Dan kamu berhak melarang mereka memasukkan orang yang tak kamu sukai ke dalam rumahmu.”
  6. “Wahai manusia, dengarlah dengan sungguh – sungguh kata – kataku ini. Sembahlah Allah dan dirikan shalat lima waktu dalam sehari. Berpuasalah engkau di bulan Ramadhan. Tunaikan zakat dari harta yang kau miliki serta tunaikan ibadah haji sekiranya mampu untuk melaksanakannya. Ketahuilah bahwa setiap umat muslim adalah saudara dengan derajat yang sama, tak seorang pun yang lebih mulia dari lainnya kecuali dalam taqwa dan amal shaleh. Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari nanti. Dan pada hari itu, kamu akan dimintai pertanggungjawaban segala yang kamu perbuat. Karena itu, waspadalah jangan sampai kamu keluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.”
  7. “Wahai manusia, tak akan ada lagi Nabi dan rasul selepas ketiadaanku dan tak akan lahir agama baru. Oleh karena itu, wahai manusia dengarlah dengan sungguh – sunggih dan pahamilah kata – kataku yang telah kusampaikan kepadamu. Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua hal kepadamu yakni Al – Qur’an dan Sunnahku yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti keduanya, niscaya kamu tak akan tersesat selamanya.”
  8. “Hendaklah orang – orang yang mendengar ucapanku menyampaikan kepada orang lain dan hendaknya orang lain itu menyampaikan kepada yang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata – kataku ini dari mereka yang hanya sekedar mendengar dariku tanpa memahminya. Saksikanlah ya Allah bahwa telah aku sampaikan risalah ini kepada hamba – hambaMu.” 

Bolehkah Berfoto di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

Pada saat Sahabat Haji Plus berkunjung ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, pastinya Sahabat Haji Plus tak lupa untuk mengabadikan momen tersebut dengan berfoto ria. Terlebih tempat yang Sahabat Haji Plus kunjungi merupakan tempat yang penuh makna, bersejarah dan letaknya jauh, tentunya tak afdhol apabila Sahabat Haji Plus tak mengabadikan momen saat berada di tempat tersebut. Hal inilah yang mungkin berada di benak jemaah haji yang seringkali berfoto ria di kawasan Tanah Suci, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi. Namun, banyak yang masih bertanya terkait bolehkah berfoto di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

  1. Menurut Nota Diplomatik Kementrian Luar Negeri Arab Saudi

Perlu Sahabat Haji Plus ketahui bahwa Kementrian Luar Negeri Arab Saudi menerbitkan nota diplomatik ke sejumlah negara terkait larangan bagi jemaah haji dan umroh untuk berselfie di dalam kawasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Nota diplomatik tersebut meneruskan kebijakan yang diambil Kementrian Urusan Haji dan Umrah Saudi. Matsuki selaku Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Sekretariat Jendral Kementrian Agama, membenarkan adanya nota diplomatik dengan nomor 270 tertanggal 15 November 2017. Larangan tersebut akan terus disosialisasikan lebih luas kepada calon jemaah haji maupun umroh. Memang sebenarnya larang untuk berselfie di kawasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ini sudah lama berlaku. Larangan tersebut kembali digaungkan karena semakin banyaknya jemaah haji maupun umroh khususnya yang berasal dari Indonesia yang tak memperhatikan larangan tersebut. 

  1. Larangan Yang Timbul Karena Keresahan

Larangan yang berlaku didasarkan pada pertimbangan terganggunya kekhusyukan jemaah lainnya yang sedang beribadah. Karena hal yang meresahkan ialah banyaknya yang melakukan foto selfie di kawasan dekat dengan Ka’bah, Raudhah serta bagian lainnya yang berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang pastinya banyak sekali orang yang sedang beribadah disana. Dibuatnya kebijakan nota diplomatik tersebut telah ditetapkan berdasarkan keresahan yang ada saat terselenggaranya ibadah umrah maupun haji.

  1. Manfaatkan Alat Dokumentasi dengan Bijak

Kesimpulan yang dapat Sahabat Haji Plus ambil dari kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut yakni bahwa Sahabat Haji Plus sebagai jemaah haji sepatutnya menggunakan alat dokumentasi dengan bijak. Pastinya Sahabat Haji Plus juga ingin mengabadikan momen pada saat berada di Tanah Suci, namun Sahabat Haji Plus juga perlu mempertimbangkan aspek kenyamanan jemaah haji lain yang sedang melaksanakan ibadah. Oleh karena itu, Sahabat Haji Plus saat ingin mengabadikan momen dengan berfoto hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek seperti waktu, kondisi serta tempat. Lebih baik jika Sahabat Haji Plus berfoto saat sedang waktu senggang, di tempat yang bebas untuk melakukan aktivitas (bukan masjid) dan tentunya tak merepotkan orang lain apalagi orang yang sedang melaksanakan ibadah. Hendaknya perlu Sahabat Haji Plus ingat bahwa satu hal yang penting ialah utamakan kenyamanan dan hormati orang lain saat hendak berfoto di Tanah Suci ya.

Kurang lebihnya seperti inilah informasi seputar pelaksanaan ibadah haji bagi Sahabat Haji Plus sekalian. Teruntuk Sahabat Haji Plus yang ingin mendapatkan informasi seputar Travel Haji Furoda dan Haji Plus di Jakarta dan Surabaya, simak terus update informasi di website ini ya! Selamat mempersiapkan pendaftaran haji dan sampai jumpa di Tanah Suci!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *